Oleh : Mohammad Fauzi

Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi telah mendorong terjadinya banyak perubahan, hal tersebut banyak menuntut kesiapan sumberdaya manusia yang kompetitf dan berkualitas. Hal tersebut tentu memberikan persepsi perlunya kemajuan dan pengembangan di segala bidang termasuk dalam bidang pendidikan.Dunia pendidikan sangat penting dan tidak terlepas dari kebutuhan manusia itu sendiri.

Untuk mencapai perkembangan di dunia pendidikan maka haruslah pendidikan itu sendiri beradaptasi dengan zaman, sebagaimana kita ingat pesan Nabi Muhammad Saw “Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya dan bukan zaman mu”. Pendidikan masyarakat berkualitas menjadi tanggung jawab dari pendidik, terutama dalam menyiapkan peserta didik menjadi subyek yang semakin berperan menampilkan keunggulan dirinya yang tangguh, kreatif dan mandiri serta profesional pada bidang masing-masing.

Keharusan guru dalam mendorong dan mendukung siswa ke arah kreatif pemanfaatan TIK mutlak dilaksakan. Untuk itu peranan guru sangat di butuhkan demi keseimbangan penguasaan dan pengemasan informasi yang bakal di hadapkan dan disajikan kepada siswanya. Karena ada kemungkinan siswa telah memahami lebih jauh satu persoalan dari pada gurunya.
Seperti yang kita tahu, penggunaan ICT, yaitu seperti handphone, computer, laptop, kamera digital, MP3 player, internet, dan lain sebagainya sudah sangat marak di tengah-tengah masyarakat kita. Tak diragukan lagi, seiring dengan perkembangan zaman, sudah semakin banyak masyarakat di dunia, khususnya di Indonesia, yang menggunakan perangkat teknologi informasi dan komunikasi yang sudah semakin canggih.

Jika dibandingkan dengan zaman dahulu sebelum teknologi semaju saat ini, tentu saja dapat kita rasakan sendiri betapa bermanfaatnya suatu teknologi. Teknologi memberikan banyak sekali kemudahan bagi kita dalam menjalani kehidupan. Informasi sudah banyak yang mudah sekali didapatkan, hanya dengan sentuhan kecil di jari kita. Zaman sekarang ini bahkan terdapat sebuah kalimat slogan dari Telkom yang terasa tepat sekali menggambarkan keadaan dunia kita zaman sekarang ini, yaitu”The world in your hand”.

Dengan menggunakan telefon genggam yang sudah semakin canggih tersebut, pengguna yang terkoneksi dengan internet dapat menemukan berbagai macam informasi yang dibutuhkannya, kapanpun dan dimanapun. Bayangkan, hanya dengan sebentuk alat kecil di dalam genggaman tangan Anda! Dengan menggunakan telefon genggam tersebut, kita dapat mengetahui kejadian apa yang sedang berlangsung di belahan dunia yang lain, kita dapat terhubung dengan kenalan-kenalan kita walaupun sedang berjauhan dan masih banyak lagi. Seolah-olah dunia sudah tanpa batas, semua orang dapat terhubung satu sama lain. Kita dapat melihat dunia hanya dengan menggunakan telefon genggam.

Jika kita lihat dari penggunanya, pengguna ICT berasal dari kalangan yang bermacam-macam. Mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa hingga para orang tua pasti mengenal dan merasakan manfaat dari penggunaan ICT. Beberapa fakta mungkin terasa mencenggangkan, karena bahkan anak-anak yang belum bisa membaca pun sudah dapat menggunakan dan mengaplikasikan ICT dengan cukup baik meskipun masih terbatas.

Melihat fenomena yang semakin sering terjadi ini, tentunya akan menarik untuk dapat mengkaji apa pengaruh dari penggunaan ICT terhadap kondisi para penggunanya. Tentunya sudah banyak sekali isu yang beredar, baik mengenai pengaruh positif bahkan pengaruh negatif yang disebabkan oleh penggunaan ICT ini. Penggunaan ICT, jika kita lihat dari sisi psikologisnya, memang terdapat banyak sekali manfaat dari penggunaan ICT. Tapi, berbanding lurus dengan segala manfaatnnya, tentu saja banyak pula hal-hal merugikan yang bisa kita dapatkan.

Jika kita lihat lebih dalam dari sisi pendidikan, teknologi sudah sangat erat kaitannya dengan dunia pendidikan. William James dan John Dewey mengemukakan suatu prinsip, konstuktivisme, yang tidak sekedar meminta peserta didik untuk menghafal informasii tetapi juga member mereka peluang untuk membangun pengetahuan dan pemahaman materi pelajaran (Santrock, 2008). Pendidikan yang mendukung prinsip konstruktivisme adalah pendidikan yang memasukkan unsur teknologi di dalamnya. Jadi dengan adanya penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran tentu akan dapat meningkatkan kreativitas serta membangkitkan rasa ingin tahu dalam diri peserta didik.
Menurut Teori Perkembangan Vygotsky, terdapat tiga konsep utama, yaitu: 

1. Genetic Law of Development
Setiap kemampuan seseorang akan tumbuh dan berkembang melewati dua aturan, yaitu tataran sosial lingkungannya dan tataran psikologis yang ada pada dirinya.
2. Zone of Proximal Development Perkembangan kemampuan seseorang dapat dibedakan dalam dua tingkat, yaitu tingkat perkembangan actual yang tampak dari kemampuannya menyelesaikan tugas-tugas atau memecahkan masalah secara mandiri, dan tingkat perkembangan potensial yang tampak dari kemampuan seseorang dalam menyelesaikan tugasatau pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa.
3. Mediasi Mediator yang diperanan lewat tanda maupun lambing adalah kunci utama memahami proses-proses sosial dan psikologis. Oleh karena itu, jika dikaji lebih mendalam, teori perkembangan kognitif Vygotsky akan diitemukan dua jenis mediasi, yaitu media metakognitif dan mediasi kognitif.
Media metakognitif adalah penggunaan alat-alat semiotic yang bertujuan untuk melakukan self regulation (pengaturan diri) yang mencakup: self planning, self monitoring, self checking dan self evaluation. Media ini berkembang dalam komunikasi antar pribadi.


Sedangkan media kognitif adalah penggunaan alat-alat kognitif untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan pengetahuan tertentu. Sehingga, media ini bisa berhubungan konsep spontan (yang bisa salah) dan konsep ilmiah (yang lebih terjamin kebenarannya)


Jika kita perhatikan teori Vygotsky di atas, maka dapat kita lihat bahwa perkembangan kognitif seseorang dipengaruhi tataran sosial lingkungannya dan tataran psikologis dalam dirinya, artinya jika lingkungan seorang anak adalah lingkungan yang sangat erat dengan penggunaan ICT, maka anak tersebut juga akan belajar untuk menggunakan ICT pula meskipun pada dasarnya ia masih belum mengetahui konsep ICT itu sendiri. Hal itu dapat kita lihat dari anak-anak kecil zaman sekarang yang jauh lebih senang bermain menggunakan gadget daripada bermain dengan teman sebayanya. Lingkungan keluarganya yang selalu menggunakan gadget tentu yang menjadi peneyebab bagi anak tersebut untuk berperilaku seperti itu
.
Adapun dampak positif kemajuan TIK, antara lain :
1. Merangsang daya imajinasi, inisiatif dan berpikir kreatif
2. Menumbuhkan empati anak
3. Pengenalan jenis emosi
4. Membantu identifikasi nilai-nilai kehidupan di masyarakat
5. Membantu tumbuhnya motivasi dan minat anak
6. Penyaluran bakat dan minat anak
7. Memfasilitasi perkembangan kognitif anak
8. Meningkatkan wawasan anak
9. Memperluas relasi sosial anak.

Selain dampak positif, kemajuan TIK juga memberikan dampak negatif terhadap perkembangan anak, antara lain meliputi :

1. Menciptakan ketergantungan terhadap teknologi
2. Memunculkan perilaku anti sosial
3. Ajang eksperimen hal-hal yang negatif
4. Meningkatkan agresifitas anak pada hal-hal yang negatif
5. Meningkatkan perilaku imitasi anak pada hal-hal negatif
6. Perubahan bentuk relasi sosial.

Dengan mengetahui beberapa dampak yang ditimbulkan oleh kemajuan TIK tersebut, tentunya sebagai pengguna  yang cerdas dan sebagai seorang guru hendaknya kita harus dapat menyeleksi dan mengarahkan pada anak-anak tentang pengaruh-pengaruh yang dapat diakibatkan oleh ICT. Jangan mudah terpengaruh oleh hal-hal yang merugikan dan jangan lupa untuk berusaha memajukan juga anak-anak di sekitar kita. Coba untuk mengedukasi anak-anak didik kita agar tidak hanya menerima pengaruh buruknya saja, tetapi juga pengaruh baiknya. Kita harus semakin bijak menyikapi segala perkembangan yang terjadi di zaman ini dan tetap berusaha melestarikan nilai-nilai luhur bangsa yang semakin hari semakin terkikis.

Pentingnya Sosialisasi Pemilu Bagi Masyarakat

Acapkali kita sering mendengar ucapan dari warga masyarakat calon pemilih “Pemilu tahun ini susah dan membingungkan, karena banyak surat suara yang harus di coblos”. Mendasar pada ucapan tersebut, maka PPK Kecamatan Ngawi sebagai penyelenggara Pemilu merasa sangatlah perlu untuk mengadakan sosialisasi Pemilu bagi masyarakat di berbagai basis untuk memberikan pemahaman pentingnya berpartisipasi dalam pesta demokrasi tersebut.

Pemilu merupakan pesta demokrasi setiap 5 tahun sekali, yang dilaksakan pada tanggal 17 April 2019, dimana pesta demokrasi pada Pemilu kali ini sangat berbeda dengan pesta demokrasi sebelumnya. Tingkat kesadaran berpartisipasi politik mulai terlihat pada masyarakat, namun masih menimbulkan kebingungan dengan system Pemilu yang baru, sehingga meskipun di gadang-gadang sebagai Pemilu yang tingkat kesadaran menyasarakatnya tinggi untuk berpartisipasi, di sisi lain ada ketakutan banyak pemilih yang Golput di karenakan kebingungan dengan system yang terbaru.

 Pada Pemilihan Umum 2014 yang dilaksanakan serentak pada tanggal 9 April 2014 untuk memilih 560 anggota DPR dan 132 anggota DPD serta DPRD Se-Indonesia periode2014-2019. Tiga bulan setelah penyelenggaraan Pemilu legislative, atau tepatnya pada 9 Juli 2014 Pemilihan Umum untuk Presiden dan Wakil Presiden dilakukan. Terdapat 10 Partai yang mengikuti Pemilu 2014, yaitu : Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Indonesia Demokrasi Perjuangan (PDIP), Partai Demokrat, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai Golongan Karya (Golkar), Partai Hanura, PKS, PKB, Partai Nasdem serta Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Selain itu, terdapat pasangan peserta Pemilu 2014, antara lain Joko Widodo dengan Jusuf Kalla melawan pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa.

Kondisi Pemilu 2019 ini berbeda jauh dengan Pemilu 2014. Pada Pemilu 2019 perlu menyampaikan pemahaman terhadap berapa jumlah surat suara yang harus di copolos, pemilihan apa saja yang terdapat dalam surat suara  tersebut dan jumlah partai apa saja yang  diikutsertakan didalam Pemilu 2019. Kelima surat suara itu nantinya di masukkan ke dalam lima kotak suara seusai di coblos di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Lima Surat suara pada Pemilu 2019 antara lain, DPRD Kabupaten/Kota warna hijau, DPRD Propinsi warna biru, , DPR RI WARna kuning, DPD RI warna merah dan Presiden-Wakil Presiden warna abu-abu. Pemahaman warna surat suara menjadi penting, karena nantinya surat suara itu dimasukkan ke lima kotak suara yang berbeda.

Desain surat suara untuk memilih DPRD Kabupaten/Kota, DPRD Provinsi, DPR RI tidak  ada foto, namun hanya ada nama calon legislatif. Dengan desain yang seperti itu, diharapkan masyarakatsudah tahu mencoblos yang sblh mana, sehingga tidak stress duluan melihat desainnya. Kemudian untuk cara memilih, dengan mencoblos satu kali pada nomor atau tanda gambar partai politik, dan/atau nama calon anggota legislatif. Sementara, untuk kertas suara DPD dan Pilpres pada Pemilu 2019 dilengkapi foto  dan nama. Cara untuk mencoblos pada surat suara untuk DPD RI adalah dengan mencoblos satu kali pada nomor, nama atau foto calon tanda gambar partai politik pengusul dalam satu kotak pada surat suara.

Mengingat begitu rumitnya, maka sosialisasi harus diadakan terus menerus secara efektif , baik dari Pemerintah, RW, RT, Karang  taruna, basis pemula,  maupun basis yang lain. Tidak hanya sistem  yang perlu disosialisasikan, namun pentingnya kesadaran berpartisipasi dalam politikpun harus selalu disosialisasikan.

Sebagai masyarakat yang lebih tahu, juga harus membantu men-sosialisasikan sistem baru tersebut. Seperti pada keluarga, saudara, tetangga, di lingkungan daerah tempat tinggalnya, supaya semakin banyak yang tahu,  tidak membingungkan dan menjadi pemilih yang cerdas dan rasional. (Mohammad Fauzi_Ngw).


PPK Ngawi Bekali Calon Petugas Pemilu 2019
Pemilu serentak tinggal menghitung hari, PPK Ngawi adakan BIMTEK KPPS  di Aula Kecamatan Ngawi, Rabu  (10/4/2019).

Dalam menghadapi  Pemilu serentak tahun 2019 PPK Ngawi telah besiap menyambut dengan melakukan Bimbingan Teknis kepada KPPS di wilayah Kecamatan Ngawi, Bimtek yang sedianya akan dilaksanakan mulai kamis 4 sampai dengan 10 april 2019, di ikuti oleh anggota KPPS di wilayah Kecamatan  Ngawi yang terdiri ketua KPPS, dan anggota KPPS 4,5 dan 6 di masing-masing TPS. Dalam sambutanya Mohammad Fauzi selaku ketua PPK Kecamatan Ngawi mengatakan pentingnya integritas dan ketelitian yang harus dimiliki setiap anggota KPPS, karena KPPS sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan Pemilihan Umum.

Dengan semakin dekatnya perhelatan akbar lima tahunan untuk memperebutkan kursi  Presiden dan Wakil Presiden, serta pemilihan calon anggota legislatif  yang akan duduk di kursi DPR RI, DPD, DPRD Propinsi dan DPRD kab/kota. Maka PPK Ngawi perlu meLaksanakan BIMTEK terhadapa anggota KPPS untuk mengasah kempauan KPPS pada saat proses Pemungutan dan Penghitungan suara di TPS. Sekali lagi Fauzi mengingatkan pada peserta Bimtek untuk tetap menjaga netralitas dan juga integritas demi terwujudnya negara yang kuat, selayaknya slogan KPU “PEMILIH BERDAULAT NEGARA KUAT”. Fauzi_Ngw

PPK Ngawi mengadakan roadshow sosialisasi pemilu serentak tahun 2019 di wilayah kecamatan Ngawi, 21/3/19. Dihadapan siswa-siswi SMK TRI SAKTI Ngawi ketua PPK Ngawi Mohammad Fauzi  mengatakan bahwa yang akan menjadi pemimpin negeri ini  5 sampai 10 tahun kedepan adalah generasi milenial yang mungkin saat ini menghadiri acara ini, kesempatan itu Fauzi mengingatkan agar generasi melinial tidak antipati terhadap demokrasi, termasuk pada pemilu serentak tahun 2019. Dia juga mengatakan bahwa pemilih pemula akan merasakan sensai luar biasa ketika mereka untuk pertama kalinya ikut dalam proses demokrasi secara nyata khususnya dalam proses penyaluran aspirasi politiknya dengan ikut mencoblos salah satu peserta pemilu yang telah menjadi pilihan hatinya.

Dalam kesempatan itu pula Fauzi mengingatkan untuk menyaring dengan benar berita yang beredar di media sosial, apa lagi terkait berita hoaks yang akhir-akhir ini berkembang bersamaan dengan masa kampanye peserta Pemilu Tahun 2019. Generasi milenial haruslah menjadi generasi yang cerdas dalam menentukan pilihannya. Bukan lagi iming-iming terhadap apa yang akan di berikan peserta pemilu pada dirinya tetapi program kerja apa yang ditawarkan oleh peserta pemilu ketika nanti mereka terpilih. Pada akhir kesmpatan itu Fauzi meinta agar siswa-siwi SMK TRI SAKTI yang telah meiliki hak pilih pada tanggal 17 April nanti untuk berbondong-bondong ke TPS untuk menyalurkan aspirasinya pada Pemilihan Peresiden dan Wakil Preseden dan Pemilihan DPR, DPD, DPRD Prop. Jawa Timur & DPRD Kab. Kota. FAUZI.NGW

Hari jadi Pacitan tahun ini, Mamik Bambang Sutejo mendapat peran sesepuh.  Dialah yang bertugas mengambil Toya Wening (air bening).  Air itu kemudian akan dibawa ke pendopo Kabupaten Pacitan.  “Bupati akan membasuh muka lalu berwudhu dengan air itu,” jelasnya.
Mantan Kepala desa Tanjungsari ini menjelaskan bahwa pengambilan toya wening di sumur kotak, tepatnya di petilasan Raden Tumenggung Adipati Notopura di Sukoharjo.   Ini harus dilakukan Mamik dengan laku yang benar.
Untuk itulah, tanggal 18 Februari, selepas maghrib, dia akan ke Sukoharo.  Kemudian nembung dengan batinnya kepada Tumenggung Notopura untuk diperkenankan mengmbil air suci.  Jika diperkenankan maka air bening di sumur kotak baru diambil.  “Jika tidak ditembung sangat berbahaya.  Jadi tidak bisa untuk main-main,” jelasnya.
Jam sembilan pagi, air itu diarak ke Pendopo Pacitan untuk diserahkan kepada Bupati.  Membawanya air itu dengan arak-arakan.  Air yang diarak dalam bejana itulah yang akan dipakai Bupati Indartato membersihkan diri dan hatinya. (Vid)


Bagi Sunyoto Karyawan, nol satu adalah harga mati.  Benar-benar harga mati dan tidak bisa diganggu gugat.  Siapapun bertanya dan kapanpun bertanya dia menjawab tetap nol satu.  “Pokoknya nol satu.  Titik,” jelasnya.
Menurut dia nol satu itu riil.  Maksudnya apa yang sudah dilakukan memang ada dan diperuntukkan bagi kemakmuran rakyat.  Berdasarkan bukti-bukti di masyarakat, kemakmuran yang dirasakan jelas sekali.
Selain itu, nol satu selama ini tidak terbukti menggunakan jabatannya utuk kepentingan pribadi.  Anaknya tetap saja membuka bisnis kuliner.  Mereka tidak merubah bisnisnya menjadi pemborong atau apa saja yang minta fasilitas kepada negara.
Soal orang keduanya, Kabul, sebutan beken untuk Sunyoto Karyawan menyebut hebat.  Alasannya dia didukung penuh oleh organisasi induknya.  “Moralnya itu sangat-sangat layak untuk panutan.  Kalau tidak manut kyai manut siapa,” katanya.
Pengurus sebuah partai ini juga menilai nol dua masih sebatas fiksi.  Masih bayangan atau masih dongengan.  Belum ada bukti kipranya di pemerintahan.  (Vid)

Kesatuan Polisi Pamong Praja, Pol PP, dipojokkan.  Kali ini yang menyudutkan adalah salah seorang calon legislatif.  Dia berlaga di Dapil 1, Pacitan-Ppringkuku.  “Sat Pol PP itu telah melakukan diskriminatif,’ ujar Sunyoto Karyawan.
Kabul, nama lain Sunyoto, mengatakan bahwa sejak lama ada aturan tegas dalam Perda.  Intinya adalah larangan memasang bentuk iklan di pohon hidup dengan cara dipaku.  Aturan itu tegas tidak ada perkecualian.  Bagi yang melanggar ancamannya jelas, alat peraganya dicabut.
Kata mantan anggota DPRD ini, Satpol PP bertindak sangat tegas kepada caleg.  Apapun alat peraganya akan dicabut jika dipakukan di kayu hidup.  “Masa kampanye pada tahun-tahun lalu begitu.  Yang dipakukan ke kayu diambil begitu saja” jelasnya.
Diakui Kabul, ketegasan seperti itu tidak berlaku bagi pemasang iklan komersiil.  Iklan kecil-kecil berisi loundry, iklan servis komputer, iklan pinjaman koperasi dan sebagainya itu dibiarkan.  Padahal, jelas melanggar dengan bukti dipakukan di pohon hidup.
Karena bukti-bukti itu Kabul meminta Pol PP tidak diskriminatif lagi.  (Vid)

Soal nol satu apa nol dua, Dudung berpandangan lain.  Baginya nol dua  lebih meyakinkan.  “Pokoknya Pas.  Pas itu ya pas,”  katanya.
Tukang tambal ban ini menjelaskan PAS itu singkatan.  Ditanya singkatan dari apa, dia hanya menjawab, singkatan dari nol dua.  Itu kode tersembunyi saat sesama pendukung PAS bertemu.
Diakuinya dia tertarik pada nol dua karena pada suatu keyakinan.  Pengemudi nol dua orang yang pandai.  Sebab tamatan Akabri tetap mumpuni dalam memimpin dibanding yang lainnya.  “Selain badannya tegak, cara bicaranya tegas, bahasa Inggrisnya tidak diragukan,” tandasnya.
Ditanya soal orang keduanya,  penghobi pingpong ini mengakui juga hebat.  Dia memiliki naluri bisnis yang kuat.  Buktinya mampu mengelola perusahaan besar dengan omset trilyunan rupiah.  Tidak mungkin perusahaan itu jalan kalau pebisnisnya bukan orang hebat.  
Dengan perpaduan itu, dia berharap NKRI tenang, ekonomi lancar.  Harga-harga stabil. (Vid)

Sebentar lagi akan ada lowongan pekerjaan.  Desa-desa di Pacitan kemungkian besar akan membuka pendaftaran sekretaris desa alias carik.  “Ini dilakukan karena posisi sekdes kosong,” jelas Kukuh Wijatno, Kabag Humas Pemda Pacitan.
Menurut dia, kekosongan itu terjadi setelah para Sekdes ditarik kecamatan.  Menjadi pegawai kecamatan.  Alasan penarikan adalah desa otonom.  Karena itu, yang menjalankan roda pemerintahan adalah desa.
Soal pelaksanaan seleksi Carik, kata Kukuh masih dalam persiapam.  Pihak Pemerintah Kabupaten sering dipanggil ke Jakarta untuk rapat persiapan.  Kendati belum jelas, sepertinya yang melakukan seleksi panitia di desa.  “Yang nilainya terbaik yang bakal lolos,” jelas Kukuh.
Ditanya gaji carik, Kabag Humas itu menjelaskan kemungkinan dar ADD.  Ini seperti gaji perangkat desa yang disetarakan PNS golongan IIA.  Sedang Sekdes disetarakan dengan golongan apa, Kukuh tidak bisa menjawab.
Kapan, pejabat yang bakal mengakhiri karirnya tahun depan itu menjelaskan masih menunggu keputusan Jakarta. (Vid)

Pengabdian Eko Setiawan kepada Pemilu perlu diacungi jempol.  Bagaimana tidak, selain mengorbankan waktu, dia juga mengorbankan uangnya.  “Saya bukan komisioner KPU, bukan pegawai KPU, tapi relawan demokrasi rekruten KPU,”jelas Wawan, panggilan Eko setiawan.
Wawan mengaku membayar sejumlah uang untuk biaya iklan kepada google.  Dana itu diperuntukkan bagi pemasangan iklan pemakai face book.  Mereka yang berada di wilayah pacitan dengan rentang umum 17 hingga 50 tahun menjadi sasarannya.
Cara ini diakuinya sangat efektif.  Dari tiga hari pemasangan ada 2382 yang melihat.  Diantara jumlah itu ada 300 orang yang menyatakan suka.  “Yang kami unggah adalah pemilih yang ingin pindah TPS. Form A5 KPU’ jelasnya.
Soal berapa iklan itu dipasang, dia menjawab selama menjadi relawan dan punya uang cukup untuk membayar deposit.
Menurut catatan google di gawai wawan, untuk pengguna face book usia 17 hinggga 65  tahun di Pacitan sebanyak 93.000 orang.  Tidak mungkin pihak KPU menggunakan sosialisasi manual kecuali memasang iklan di FB. (Vid).

Powered by Blogger.