Sindopos.com - Bone Bone, desa bebas rokok dalam 11 tahun terakhir

desa-bebas-asap-rokok_bone_bone_no_smoking_village
Desa Bone - Bone Kecamatan Baraka Kab. Enrekang Bebas Asap Rokok (Sumber : kompas TV)
Desa Bone - Bone yang terletak di Kecamatan Baraka kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.786,01 km² dan berpenduduk sebanyak ± 190.579 jiwa.Ditinjau dari segi sosial budaya, masyarakat Kabupaten Enrekang memiliki kekhasan tersendiri. Hal tersebut disebabkan karena kebudayaan Enrekang (Massenrempulu') berada di antara kebudayaan Bugis, Mandar dan Tana Toraja.

Desa di daerah pegunungan di Sulawesi Selatan, Bone Bone, dalam 11 tahun terakhir menjadi desa bebas rokok, langkah yang diambil karena tingginya angka kemiskinan di sana. Abdul Wahid, kepala desa Bone Bone yang terletak di kabupaten Enrekang, mengatakan lebih dari 800 jiwa warganya masih tetap tak merokok setelah larangan ini diterapkan pada 2005.

Namun ia mengakui sejumlah perantau yang kembali ke desa masih ada yang merokok namun mendapatkan sanksi seperti "membersihkan masjid, memperbaiki jalan yang rusak."Keberhasilan desa ini menjadi kawasan bebas rokok juga diikuti oleh bupati, camat dan sejumlah kepala desa lain, kata Abdul.

Pemerintah Indonesia sendiri tengah mengkaji jumlah kenaikan harga rokok untuk melindungi kesehatan masyarakat dan juga menambah pemasukan negara. Keberhasilan Bone Bone menjadi desa bebas rokok dimulai dari kepala desa sebelumnya Muhammad Idris yang merasa prihatin karena 70% warganya sebelum tahun 2000 adalah perokok, kata Abdul. 
[ads-post]
Jumlah pria perokok di Indonesia di atas usia 15 tahun merupakan jumlah terbesar di dunia dan mencapai lebih dari 53 juta, menurut data Tobacco Atlas pada 2015 setelah Cina dan Rusia. Lebih dari 217.000 orang meninggal akibat penyakit terkait rokok menurut organisasi ini.

Ia juga mengatakan status bebas rokok ini menjadikan desa ini sebaai tempat penelitian beberapa institusi dari luar negeri termasuk dari Australia dan Jepang. Bulan lalu sempat muncul wacana kenaikan harga rokok menjadi Rp50.000 menyusul kajian dari Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia yang menyebutkan usulan kenaikan harga rokok menjadi dua kali lipat disepakati perokok sendiri.

Studi dari FKM UI ini meneliti dukungan publik atas kenaikan harga rokok guna mendanai Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) atau dikenal dengan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial).(Sumber : BBC Indonesia)


Post a Comment

Powered by Blogger.