Bukan Sesar Grindulu: Menyingkap Misteri "Gempa Intraslab" yang Mengguncang Pacitan

Misteri "Gempa Intraslab" yang Mengguncang Pacitan
Misteri "Gempa Intraslab" yang Mengguncang Pacitan

PACITAN – Warga Pacitan sempat dikejutkan oleh guncangan gempa bermagnitudo 5,5 pada Selasa pagi (27/1/2026). Meski episentrumnya berada di daratan, tepatnya di wilayah Kecamatan Tulakan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan memastikan bahwa gempa ini bukan disebabkan oleh aktivitas Sesar Grindulu yang selama ini diwaspadai.

Pernyataan ini sekaligus menepis kekhawatiran masyarakat akan aktifnya patahan lokal yang membentang hingga Ponorogo tersebut. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi di bawah tanah "Kota 1001 Goa" pagi tadi?

Fenomena Langka: Pecahnya Lempeng Australia

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Pacitan, Erwin (mengutip hasil koordinasi dengan BMKG), menjelaskan bahwa gempa ini merupakan jenis gempa intraslab.

Berbeda dengan gempa pada umumnya yang terjadi akibat gesekan dua lempeng (interplate) atau aktivitas sesar di permukaan bumi, gempa intraslab terjadi karena adanya "pecahan" atau deformasi di dalam slab (lempeng) tektonik itu sendiri.

"Ini fenomena yang cukup jarang. Gempa ini berasal dari pecahan slab Australia yang menancap lurus ke mantel bumi di bawah daratan Pacitan," jelas pihak BPBD.

Mengapa Terasa Sangat Kuat?

Meskipun pusat gempa (hiposentrum) berada di kedalaman menengah, yakni sekitar 105 kilometer, getarannya terasa sangat nyata hingga skala III-IV MMI di Pacitan. Hal ini dikarenakan karakteristik gempa intraslab yang memiliki radiasi energi lebih kuat dibandingkan gempa subduksi biasa pada magnitudo yang sama.

Secara teknis, berikut adalah fakta kunci gempa tersebut:

  • Mekanisme: Thrust Fault (Pergerakan Naik).

  • Penyebab: Deformasi batuan di dalam lempeng Indo-Australia.

  • Status Sesar Lokal: Sesar Grindulu terpantau pasif dan tidak terpicu oleh kejadian ini.

Kesiapsiagaan, Bukan Kepanikan

Meskipun fenomena ini tergolong langka dan terjadi di darat, BPBD mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada. Karena sumbernya berada di kedalaman menengah, gempa ini tidak memiliki potensi tsunami.

"Kami mengajak masyarakat untuk terus memperkuat konstruksi rumah dan memahami jalur evakuasi. Pengetahuan adalah perlindungan terbaik kita," tambah Erwin. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan kerusakan struktur bangunan yang signifikan di wilayah Pacitan maupun daerah sekitarnya seperti Ponorogo dan Wonogiri.

Memahami Apa Itu Gempa Instraslab?

 Gempa intraslab adalah fenomena geologi yang menarik karena ia tidak terjadi di batas antarlempeng, melainkan di dalam "tubuh" lempeng itu sendiri. Untuk memahami ini, bayangkan sebuah biskuit yang Anda celupkan ke dalam kopi; gempa ini bukan terjadi saat biskuit bergesekan dengan cangkir, melainkan saat bagian biskuit yang sudah masuk ke dalam cairan itu retak atau patah.

Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai anatomi dan mekanisme gempa intraslab:


1. Letak Kedalaman (Zona Benioff)

Dalam proses subduksi, lempeng samudra yang lebih berat (seperti Lempeng Australia) menunjam ke bawah lempeng benua (seperti Lempeng Eurasia).

  • Gempa Interplate: Terjadi di bidang kontak (gesekan) antara dua lempeng, biasanya di kedalaman dangkal (0-40 km).

  • Gempa Intraslab: Terjadi jauh di dalam lempeng yang sedang menunjam tersebut, biasanya pada kedalaman menengah (60–300 km) atau dalam (di atas 300 km). Area tempat terjadinya gempa di lempeng yang menunjam ini disebut Zona Wadati-Benioff.

2. Mengapa Lempeng Bisa Patah di Kedalaman?

Ada tiga faktor utama yang menyebabkan lempeng yang sudah "masuk" ke dalam bumi bisa pecah/patah:

  • Gaya Gravitasi (Slab Pull): Lempeng yang menunjam ke bawah ditarik oleh gravitasi bumi yang sangat kuat. Beban dari ujung lempeng yang berat ini menyebabkan bagian atas lempeng mengalami tegangan tarikan (tension) hingga akhirnya pecah.

  • Perubahan Fase Mineral (Metamorfosis): Di kedalaman yang sangat dalam, suhu dan tekanan meningkat drastis. Mineral di dalam batuan lempeng berubah strukturnya. Proses ini melepaskan air (dehidrasi) yang kemudian melemahkan batuan dan memicu retakan.

  • Lengkungan Lempeng: Saat lempeng samudra dipaksa menekuk ke bawah untuk masuk ke dalam bumi, terjadi tekanan tektonik yang luar biasa besar di titik tekukannya.

3. Karakteristik Getaran: Mengapa Terasa Sangat Kuat?

Meskipun pusatnya dalam, gempa intraslab sering kali terasa lebih "tajam" atau kuat di permukaan dibandingkan gempa dangkal dengan magnitudo yang sama. Hal ini disebabkan oleh:

  1. High-Frequency Waves: Batuan lempeng samudra yang menunjam bersifat padat dan dingin. Sifat ini memungkinkan gelombang seismik merambat dengan sangat efisien (sedikit energi yang hilang) langsung menuju permukaan.

  2. Radiasi Energi: Energi yang dilepaskan cenderung lebih terkonsentrasi karena pecahnya batuan keras di kedalaman tinggi.

Gempa di Pacitan kemarin membuktikan bahwa ancaman tektonik tidak hanya datang dari patahan yang terlihat di peta (seperti Sesar Grindulu), tapi juga dari aktivitas "raksasa" di bawah kaki kita yang sedang tenggelam menuju mantel bumi.

Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form