Tepat 2 tahun lalu musibah besar banjir dan tanah longsor melanda Kabupaten Pacitan. Kejadian pada tanggal 27 dan 28 November tahun 2017 itu masih membekas dalam ingatan sebagian masyarakat setempat. Bencana dahsyat kala itu tak hanya meluluhlantakkan bangunan rumah, sarana pendidikan dan fasilitas umum. Sebagian warga menjadi korban amukan alam. 

Tercatat 25 orang meninggal dunia, 600 lebih rumah rusak, puluhan sarana penyeberangan putus. Akses ekonomi, pendidikan dan kesehatan lumpuh karenanya. Hampir seluruh penduduk di wilayah kota yang terdampak banjir kehilangan harta benda miliknya. Kerugian akibat bencana itu diperkirakan mencapai 600 milliar rupiah. 

Dampak besar yang cukup dirasakan masyarakat ini pula yang menginisiasi sejumlah organisasi kepemudaan di kota berjuluk 1001 gua menggelar do'a bersama di Masjid Agung Darul Falah pada Kamis, (28/11) malam. Mereka membaca Ayat Suci Al quran untuk para korban meninggal dunia serta memanjatkan do'a dengan harapan bencana serupa tak kembali terulang.

Usai berdo'a bersama para pemuda dari Pacitan Institut, BEM STKIP PGRI Pacitan, BEM STIT Muhammadiyah Pacitan, HIMATIKA STKIP PGRI Pacitan, HMI Cabang Pacitan, Forkisma, Karang Taruna, DPD KNPI Pacitan, MDMC, dan PWI merefleksikan kejadian bencana alam 2 tahun lalu. Mereka yang menjadi korban maupun relawan penanganan pasca bencana menceritakan pengalaman berbeda saat kejadian bencana menerjang. Selain itu, para pemuda Pacitan juga menyatakan sikap atas penanganan pasca bencana yang dianggap belum tuntas. 

"Penanganan bencana alam menyisakan banyak pekerjaan rumah. Rehabilitasi rekonstruksi terdampak bencana belum selesai sepenuhnya. Dan kita lihat bersama kebijakan pemerintah tampaknya belum berpihak terhadap alam dan keselamatan warga secara keseluruhan," kata Tresna Sujawanto Direktur Eksekutif Pacitan Institut pada wartawan.

Para pemuda berharap para pemangku kebijakan tidak lupa bahwa Pacitan merupakan wilayah rawan terhadap beragam bencana. dan menuntut kesiapsiagaan bencana diprioritaskan. 

"Harapannya kesiapsiagaan bencana jadi prioritas pemerintah. Kami mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengubah perilaku kita untuk lebih peduli terhadap kondisi alam. Kerusakan alam terjadi karena manusia itu sendiri," lanjut Tresna.

Bencana alam tidak mengenal ruang tempat dan waktu. Hanya kesadaran pribadi dengan mengenali kondisi lingkungan sekitar dan ikut menjaga keseimbangan alam merupakan salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak atau resiko akibat bencana alam.

Post a Comment

Powered by Blogger.