Profil Desa & Kelurahan, Desa Klesem Kecamatan Kebonagung Kabupaten Pacitan

Sindopos.com - Profil Desa Klesem Kecamatan Kebonagung Kabupaten Pacitan.

Profil Desa & Kelurahan, Desa Klesem Kecamatan Kebonagung Kabupaten Pacitan
Profil Desa & Kelurahan, Desa Klesem Kecamatan Kebonagung Kabupaten Pacitan


Kondisi Desa Klesem Kecamatan Kebonagung Kabupaten Pacitan

Desa Klesem adalah satu dari beberapa Desa yang ada di wilayah kerja kecamayan kebonagung yang memiliki luas 756,25 Ha, dengan batas – batas sebagai berikut ;


BATAS WILAYAH

Utara         :   Desa Gawang
Selatan      :   Samudra Indonesia
Barat         :   Desa Klesem
Timur         :   Desa Sidomulyo

Dengan posisi yang kurang strategis tersebut, sangatlah sulit bagi masyarakat Desa kami untuk memaksimalkan hasil   pertanian, karena memang sebagian besar  mata pencaharian  masyarakat kami adalah petani.

Akibat nya tingkat kemakmuranya kurang, namun demikian potensi – potensi yang ada cukup menjanjikan asalkan tersapat program pembangunan yang bisa memberdayakan.


Sejarah Desa Klesem Kecamatan Kebonagung Kabupaten Pacitan

Menurut cerita para sesepuh dan para tokoh masyarakat, sekitar abad ke – 17 Desa Klesem yang sekarang ini, belum punya  nama dan masih merupakan hutan,  namun  sebelumnya sudah  ada penghuni yang tidak menetap. Hal dibuktikan dengan  adanya  bekas  ladang  dibeberapa  tempat  dan  bekas  tempat  tinggal  sementara, yang  sudah menjadi  belukar  (hutan kecil )  lagi.

Mulai abad   ke – 17  tempat  ini sering didatangi orang-orang  dari berbagai daerah yang bermaksud untuk membuka  lahan  pertanian serta tempat   tinggal untuk selamanya.

Pada  tahun 1723  sudah ada lebih kurang 20  kepala keluarga   yang menghuni didaerah ini. Namun  ke-20  KK  ini  tidak  menjadi satu  tempat,  melainkan tempatnya terpisah dan  hidupnya  berkelompok –kelompok  karena  mereka datang disini tidak  dari satu daerah. Mereka datang dari  berbagai  daerah .Ditempat  inilah mereka membuka lahan  dan bercocok tanam sebagai mata pencaharian serta membangun rumah (gubuk) untuk tempat tinggal meskipun hanya dengan alat seadanya.

Tidak    berselang     lama    kemudian   datanglah   seorang      bernama  Ki TORO WONGSO beserta istrinya Nyi PONGGING, mereka datang  membawa rombongan kecil (sekitan 4/5 keluarga). Mereka datang dari daerah Jawa Tengah. Setibanya ditempat ini mereka langsung menuju ketepi pantai selatan, disinilah mereka serombongan membuka lahan pertanian sebagai penghidupan sehari-hari. Pada waktu itu penghuni didaerah ini sudah ada beberapa kelompok yang tinggal dideberapa tempat, mereka sudah merasa kerasan dan ingin bertahan untuk tetap tinggal selamanya didaerah ini. Meskipun sudah lama tinggal dipesisir pantai namun pada saat itu antara kelompok yang lain kebanyakan belum saling mengenal.

Pada suatu hari timbulah gagasan Ki TORO WONGSO untuk menjelajah kawasan hutan ini dan ingin bertamu dengan orang-orang yang bertempat diderah ini untuk diajak saling mengenal antara kelompok satu dengan yang lain. Dengan timbulnya gagasan Ki TORO WONGSO inilah orang-orang penghuni didaerah ini saling mengenal satu sama lain, makin hari makin akrab hidup berdampingan dan saling menjalin kemitraan juga timbul gagasan untuk mengadakan gotong-royong merintis jalan antar kelompok. Hingga pada suatu saat dengan persetujuan dan kesepakatan semua kelompok, Ki TORO WONGSO dibentuk sebagai sesepuh daerah ini.

Pada suatu hari setelah Ki TORO WONGSO dibentuk sebagai sesepuh, dihati Ki Toro Wongso sendiri belum begitu menerima, karena dalam hati Ki Toro Wongso masih ada sesuatu hal yang sampai saat ini belum juga ketemu.  Perlu diketahui TORO WONGSO adalah seorang keturunan Bangsawan, mereka berasal dari daerahTambayat (Jawa Tengah) dan mereka datang didaerah ini adalah disuruh  oleh orang tuanya. Karena ketika itu (ToroWongso) sudah menikah lebih kurang  5 tahun namun belum juga dikaruniai anak, maka oleh orang tuanya disuruh  bertapa lelono jajah desa milang kori nelasak hutan ngaloyo bumi jangan sampai berhenti kalau belum sampai dipesisir laut selatan yang  disitu terdapat pohon ASAM   besar dan rindang. Disitulah kelak akan bertemu seorang WALI, disitu pulalah kelak akan mempunyai anak. ”Dari anak keturunanmu kelak akan menjadi sesepuh didaerah yang engkau tempati” demikian kata orang tuanya. Dalam pengembaraannya Ki TORO WONGSO selalu berdoa agar apa yang pernah dikatakan oleh orang tuanya itu segera terwujut.

Hingga pada suatu hari  apa yang pernah dikatakan ayahnya akhirnya terwujud. Pada saat itu (awal tahun 1727) datanglah SEORANG WALI bernama Kanjeng Sunan KALI JOGO, beliau datang dari arah timur (daerah Kediri) sengaja berjalan-jalan  (LELONO) NGGEGISIK MENYISIR Laut Selatan. Setibanya didaerah ini beliau bertemu dengan Ki Toro Wongso dan kawan-kawan. Setelah berbincang-bincang dan saling mengenal satu dengan lainnya dihati Njeng Sunan Kali Jogo merasa ayem dan trenyuh setiba didaerah ini. Kedatangan Njeng Sunan Kali Jogo ini disambut baik dan senang hati oleh Ki Toro  Wongso dan kawan-kawan penghuni daerah ini.

Kanjeng Sunan Kali Jogo beristrirahat ditempat ini selama 40 hari 40 malam. Selama ditempat ini beliau selalu aktf menjalankan Sholat 5 waktu yang  tempat sholatnya tidak pernah berpindah-pindah. Seringkali sehabis sholat beliau selalu duduk diatas batu dibawah pohon Asam besar yang rindang sepetinya ada sesuatu yang dipikirkan. Selama disini juga Beliau selalu mengadakan pertemuan-pertemuan dengan Ki Toro Wongso beserta kawan-kawannya untuk diberi semacam ceramah Agama serta Ilmu Pasholatan agar semua penghuni didaerah ini memeluk Agama Islam dan menjalankan Syarat rukun Islam tersebut.

Setiap malam sehabis memberi sesuluh tentang Ilmu Agama, selama disini beliau menjalankan sholat Tahajut dan sehabis Sholat beliau selalu bersemedi ditengah hutan dipinggir laut ini. Padahal ditempat ini adalah tempat Pengalapan dan benar-benar gawat (angker), tetapi dengan niat yang tulus seraya membaca dua Kalimah Syahadad, beliau tidak mengurungkan niatnya. 

Banyak godaan yang beliau dapatkan namun Beliau tetap bepedoman pada ajaran Alloh.
Pada waktu Jeng Sunan Kali Jogo bersemedi yang ke-27 malam, bertepatan malamnya Jum’at Kliwon, beliau didatangi oleh seorang tua yang sudah renta, dan tidak ketahui dari mana asalnya serta siapa namanya. Orang itu mendekati Jeng Sunan Kali jogo, seraya berkata ” HE......!!! Kali Jogo......!!! Keinginanmu akan terkabul tapi syaratnya mantapkan Imanmu dan Sucikan dirimu dengan mandi dan sedikit minum serta berwudhlu di air kolam yang ada di sebelah utara tempat ini. Lalu kembalilah  engkau kesini, selama 7 hari 7 malam semedimu jangan pudar, aku akan memberimu sesuluh ”.

Pada  saat  itu juga  Jeng Sunan Kali Jogo  menuruti perintah orang Tua itu   untuk   bersuci  di air   Kolam   yang   sangat   jernih   dan   menyegarkan. Sehabis  bersuci  Jeng  Sunan  Kali  Jogo  kembalilah  ke tempat  bersemedi dan Beliau  mulai  bersemedi  lagi.   Dengan  tidak   disangka-sangka  setelah  beliau duduk  bersemedi  perasaan  beliau  seperti  berada  disebuah rumah Gedung yang megah bagaikan Istana Kerajaan. Dirumah gedung inilah Beliau mendapat sesuluh agar tercapai cita-citanya.

Selama 7 hari 7 malam  Jeng  Sunan  Kali  Jogo  bersemedi  tidak  boleh pudar,  selama  itu  pula  Ki Toro Wongso dan kawan-kawan merasa kehilangan. Karena  kepergian  Jeng Sunan Kali Jogo pada malam itu tidak  pamit  dan  tidak berpesan   apa-apa.   Maka   bagi   Ki   Toro   Wongso   dan   kawan-kawan menimbulkan tanda tanya dan menimbulkan praduga (prasangka) yang tidak-tidak. Pada saat itu juga Ki Toro wongso mengajak  teman-temannya untuk mengadakan pencarian disekitar hutan tetapi Jeng Sunan Kali Jogo tidak diketemukan.

Genap  7 hari 7  malam Jeng Sunan  Kali  Jogo bersemedi, pada  malam terakhir  Beliau  ditemui orang  tua  itu  lagi, Beliau diperintah  untuk segera pergi meninggalkan tempat  ini untuk menuju kearah kearah Pantai Utara Pulau Jawa.

Seketika  itu  bersamaan  dengan  fajar  menyingsing  Jeng  Sunan  Kali Jogo  sepertinya  terbangun dari  tidur, padahal  beliau  tidak tidur. Bersamaan  Jeng  Sunan  Kali  Jogo  membuka  mata, tiba-tiba  orang  tua  dan  rumah gedung itu lenyap dari  pandangan  mata yang ada hanya hutan belantara. Seketika itu  Beliau bangkit  dari  tempat  semedi. Dengan  perasaan  haru  Jeng  Sunan  Mandi  dan berwudlu  dikolam  dekat  beliau  bersemedi,  ini  hanya  tempat  sumber air yang merupakan  belik   kecil.  Namun  beliau  tetap  mandi  dan   bersuci  dibelik   itu,  terus melakukan  sholat Subuh  ditempat  pasholatan beliau semula. 

Sehabis sholat subuh Beliau menemui Ki Toro Wongso, pada pagi hari itu Beliau bertemu dengan Ki Toro Wongso. Dengan datangnya Jeng Sunan  Kali Jogo ini, Ki Toro Wongso sangat terharu dan senang, karena apa yang dikawatirkan selama ini tidak pernah terjadi. Pada saat itu juga Ki Toro Wongso tidak bisa memendam rasa keingintahuannya, tanpa dapat ditahan lalu Ki Toro Wongso bertanya ”Kemana Jeng Sunan selama ini....?”  Jeng Sunan Kali Jogo menjawab ” Nanti akan saya jelaskan ...!. Tapi aku ingin bertemu dengan teman-temanmu disekitar sini”.Tolong kumpulkan mereka......!Demikian permintaan Njeng Sunan. Lalu pada malam hari yang telah ditentukan untuk pertemuan itu, Jeng Sunan Kali Jogo mengajak Ki Toro Wongso dan kawan-kawan ketempat Beliau bersemedi. Sesampainya ditempat semedi, Jeng Sunan Kali Jogo berkata ”Aku akan segera meninggalkan tempat ini, namun sebelumnya aku akan memberi pesan dan kesan pada kalian”.

1. ”Sebelumnya saya akan bercerita, bahwa selama saya bersemedi ditempat kita duduk ini, dalam perasaan saya tempat ini adalah bangunan Rumah Gedung yang sangat megah bagaikan Istana Kerajaan. Disinilah saya ditemui oleh seorang Kakek Tua Bungkuk yang Nama dan Asalnya saya tidak tahu.  Kakek Tua itu memberiku sesuluh, dan sesuluh itu tidak boleh dikatakan pada siapa saja, ini hanya untuk pribadiku. Pesanku pada kalian semua ”Sepeninggalku dari sini, sekitar hutan ini kelak supaya diberi nama: GEDUNG KALI ULUH  yang mempunyai arti: Dirumah sebuah Gedung Kali Jogo mendapatkan sesuluh, dan tempat kita duduk ini supaya disebut    PUNDEN  yang mempunyai arti saya Mundi dawuh dari Seorang Kakek tadi. Jadi kelak barang siapa mempunyai cita-cita luhur dan berziaroh ketempat ini Insya Alloh akan terkabul. Syaratnya nanti saya jelaskan lebih lanjut”.

2. ”Pesan saya yang kedua, Sumber air dan yang merupakan Belik disebelah ini kelak supaya diberi nama Kali Suci yang mempunyai arti dibelik inilah Sunan Kali jogo bersuci. Dan barang siapa yang mandi dan minum air ini, bisa menyembuhkan penyakit, awet muda dan dijauhkan dari kekuatan gaib. Lalu hubungannya dengan PUNDEN, barang siapa yang mempunyai cita-cita luhur sebelum berziaroh ke PUNDEN diharuskan berwudlu dulu dibelik (Kali Suci ini). Kemudian baru menuju ke PUNDEN dengan Iman yang tebal niat yang suci seraya membaca Sholawat Salam”. (Dan tidak boleh kearah kemusrikan)  

3. ”Yang ketiga saya berpesan,  Ditempat saya Sholat diatas batu sebrang sungai disekitarnya kelak supaya dinamakan: SHOLATAN artinya dengan nama ini kelak kemudian semua penghuni didaerah ini ingat akan Sholat dan apabila daerah ini mengalami musibah apa saja lakukan sholat sunnah berjama’ah ditempat ini Insya Alloh akan segera terhindar dari musibah tersebut”.

4. ”Pesan saya yang ke empat, Sepeninggalku dari sini besok kelak kalau didaerah ini sudah ramai dan sudah menjadi desa, Namakanlah Desa KALI ASEM yang mempunyai arti Kali Jogo sehabis Sholat, selalu duduk dibawah pohon asam yang besar dan rindang.Kali Asem ini saya ambil dari kata Kali Jogo dan Asam. (Yang kemudian hari oleh kebanyakan orang sampai sekarang disebur KLESEM).
”Yang terakhir terakhir kali saya berpesan, sepeninggalku dari sini barang siapa yang tulus ikhlas mau melakukan RUAT BUMI (SEDEKAH BUMI) setiap malam Jum’at Kliwon di bulan , Insya Alloh akan dijauhi dari berbagai penyakit dan akan dekat Rizkinya”.

”Dan kamu Toro Wongso...! Jika kamu kepingin punya anak maka lakukanlah mandi Jamas dikali Suci itu kemudian minum sedikit airnya terus berwudlu lalu lakukanlah sholat sunah di sholatan, setelah itu lakukan Ziaroh ke Punden dengan niat yang tulus, Insya Alloh kamu akan segera punya anak. Dan keturunanmu kelak akan jadi orang wibawa yang disegani banyak orang”.  Lalu Jeng Sunan Kali Jogo pamit melanjutkan perjalannya ke arah Pantai Utara Pulau Jawa.

Sepeninggal Jeng Sunan Kali Jogo dari daerah ini, tidak selang beberapa kemudian, ternyata bernar apa yang pernah disabdakan Beliau, ternyata Ki Toro Wongso punya anak.

Hati  Ki Toro Wongso sangat senang, apa yang diidam-idamkan kini terkabul. Istrinya melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi Nama : WONO TIKO, artinya Wono adalah Hutan, dan TIKO artinya Tekat. (Lahir ditengah hutan karena dari ketekatan Ki Toro Wongso atas perintah Orang Tuanya, apapun yang terjadi asalkan bisa punya anak tentu akan di lakukan).

Setelah kurang lebih WONO TIKO berumur 8 tahun, dengan tiba-tiba Ki Toro Wongso dan Istrinya, kepingin meninggalkan tempat ini. Ki Toro Wongso berserta Istrinya pingin kembali pulang ke daerah asalnya yaitu YOGJAKARTA, demi masa depan anaknya.Wono Tiko akan disekolahkan di Yogjakarta, maka dengan berat hati Ki Toro Wongso pamit pada kawan-kawannya yang masih tinggal didaerah ini dan berpesan pada kawan-kawannya agar apa yang telah disabdakan oleh Jeng Sunan Kali Jogo supaya dilaksanakan dan ditaati. Sebelum meninggalkan tempat ini Ki Toro Wongso melakukan mandi Jamas dikali Suci dan berwudlu terus melakukan Sholat Sunah Ghoib di Sholatan kemudian Ziaroh ke Punden untuk memohon Pada Yang Agung agar perjalannya sampai tujuan dan dikabulkan apa yang dicita-citakan.

Sepeninggal Ki Toro Wongso dari sini, tempat ini semakin tahun semakin tambah penghuninya, dan kebanyakan orang datang dari daerah sekitar sini saja. Mereka yang datang itu rata-rata sengaja  untuk membuka lahan pertanian dan mencari tempat tinggal untuk menetap selamanya.

Pada tahun 1774 didaerah ini berdirilah sebuah Desa yang dinamakan Desa Kali Asem, lama-kelamaan oleh orang banyak disebut Desa KLESEM. Pada saat itu penduduk kepala Keluarga di Desa Klesem baru 84 Kepala keluarga, dan jumlah dukuhnya 3 Dukuh yaitu (Dukuh Geneng, Dukuh Duren dan Dukuh Cowek).  Dan Lurahnya ditunjuk oleh Ndoro Kanjeng Bupati  Pacitan Orang dari Ngayogyakarta bernama WONO TIKO yang tak lain adalah anak Ki Toro Wongso yang dilahirkan didaerah sini juga.

Demikian Sejarah singkat tentang Dumadinya Desa Klesem dan Legenda (Cerita Nyata Dung Kali Uluh, Kali Suci Dan Salatan ).


SUSUNAN SILSILAH KEPALA DESA KLESEM

1. WONOTIKO dari tahun    1774  sd  1803   (29 th) KRAJAN
2. MERTO DRONO dari tahun   1803   sd   1834   (31 Th) BLIMBING
3. MERTO LESONO dari tahun    1834  sd   1876   (42 th) BLIMBING
4. JOKARSO dari tahun 1876 sd  1880 (4 th) KENDAL
5. SOKARYO  dari tahun 1880 sd 1882    (2 th) DUREN
6. BRAHIM  dari tahun 1882 sd 1884  ( 1.5 Th)  KENDAL
7. SUTARJO  dari tahun 1885 sd  1889    (4 th)  LEDOK LOR
8. KARTOTIKO  dari tahun  1890  sd  1893    (3 Th) DUREN
9. SONOTIKO  dari tahun 1893  sd  1895     (2 th) LEDOK KIDUL
10. SUPARDI dari tahun   1896  sd  1901    (5 th) LEDOK LOR
11. PARTOIKROMO dari tahun   1902  sd  1941   (39 th) BLIMBING
12. MARTOWIHARJO  dari tahun   1942  sd  1978   (36 th)  BLIMBING
13. SYAMSURI (THIWUL) dari tahun  1979  sd  1990   (11 Th)  BLIMBING
14. SYAMSURI (BANGI)  dari tahun  1990  sd  1998   (8 th) BLIMBING
15. WIJIANTO  dari  tahun   1999  sd  2006   (8 Th)  KRAJAN
16. DJUMIRAN tahun     2006-.........    KENDAL

Demografi Desa Klesem Kecamatan Kebonagung Kabupaten Pacitan

Kependudukan
  

Jumlah penduduk
                                                                                              

Jumlah penduduk
Laki – laki
Perempuan
Rumah tangga miskin

3.523  Jiwa  723 KK
1.619  Jiwa
1.904  Jiwa
785     Jiwa  23%     198 KS 

Orbitasi
Jarak kekota kecamatan  :  8 KM
Jarak Kekota Kabupaten  :  18 KM
Jarak Kekota Provinsi       :  250 KM


 Jumlah Penduduk Menurut Umur

Umur ( Tahun )
Jumlah ( Jiwa )
>65
60 – 65
55 – 60
50 – 55
45 – 50
40 – 45
35 – 40
30 – 35
25 – 30
15 – 20
10 – 15
5 – 10
<5
78
124
161
332
338
299
208
214
235
241
275
295
299
424
JUMLAH
         3.523




Keadaan Sosial Desa Klesem Kecamatan Kebonagung Kabupaten Pacitan

Adapun tingkat pendidikan masyarakat Desa Klesem adalah  sebagai berikut  :

 Tingkat Pendidikan Masyarakat

Tingkat Pendidikan
Jumlah ( Orang )
Tidak sekolah / Buta Huruf
Tidak Tamat SD / Sederajat
Tamat SD / Sederajat
Tamat SLTP / Sederajat
Tamat SLTP / Sederajat
Tamat D1, D2, D3
Tamat  Sarjana / S1, S2



Sementara tentang kesenian  tradisional yang sampai sekarang  masih ada adalah sebagai berikut :

 Kesenian Masyarakat

Jenis Kesenian
Jumlah Kelompok
Status
Wayang Kulit
Jaranan Reog
Karawitan
Senterewe
1
1
1
1
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif



Keadaan Ekonomi Desa Klesem Kecamatan Kebonagung Kabupaten Pacitan

Sebagai Desa yang memiliki luas wilayah yang cukup luas terutama lahan pertaniannya, maka sebagian besar penduduk desa mata pencahariannya adalah sebagai petani, selengkapnya adalah sebagi berikut  :

 Mata Pencaharian Penduduk

Petani
Pedagang
PNS
Tukang/Jasa
Nelayan
2110
105
8
136
78



Sedangkan jumlah kepemilikan ternah penduduk Desa Klesem adalah sebagi berikut  :

Kepemilikan Ternak

Ayam/Itik
Kambing
Sapi
Kerbau
Lain-lain
5785
790
950
0
0


 

 

Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form