Sindopos.com - Pacitan, Mantan Presiden RI Ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Bernostalgia Saat Duduk di Bangku Sekolahnya SMPN 1 Pacitan Tahun 1962-1964. 

SBY saat berbincang hangat di halaman SMPN 1 Pacitan
SBY saat berbincang hangat di halaman SMPN 1 Pacitan
Meski tak lagi menjabat sebagai kepala negara, kharismatik mantan Presiden ke-enam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) masih terus terpancar. Kemarin (11/3) ratusan siswa-siswi SMPN 1 Pacitan, sempat histeris, ketika melihat secara dekat, sosok ‎idolanya tersebut memasuki aula pertemuan. Sontak, suasana yang semula hening berubah menjadi meriah. Suara tepuk-tangan diselingi teriakan-teriakan kecil terdengar riuh-rendah dan memecah keheningan suasana saat itu. "Pak SBY...Pak SBY...Sugeng rawuh di Pacitan," teriak beberapa siswa serta guru yang ikut menyambut kedatangan Presiden IGGG itu disekolahnya, Rabu (11/3).
Menurut SBY, sekian tahun silam, tepatnya pada Tahun 1962 hingga 1964, ia pernah mengenyam bangku sekolah di SMPN 1. Itu setelah ia menamatkan sekolah rakyat (setara sekolah dasar) bernama Gadjah Mada, yang saat ini berganti nama menjadi SDN Baleharjo I. Sebelumnya, SBY juga pernah bersekolah disebuah SD di Desa Purwoasri, Kecamatan Kebonagung. "Saat itu, ayahanda saya yang seorang anggota TNI ditugaskan di Kebonagung. Setelah ‎dimutasi, kami sekeluarga mengikuti, hingga akhirnya bersekolah di SD Gadjah Mada," tutur SBY, seraya mengenang peristiwa saat masa kecil silam.
Pada kesempatan bernostalgia di sekolahnya tersebut, Ketua Umum DPP Partai Demokrat itu menyempatkan diri memberi cindera mata berupa karya puisi bertajuk "Hari lalu anak Pacitan." SBY juga disuguhi pembacaan puisi karangannya oleh Aksa Fajar Muhammad, siswa SMPN 1 Pacitan. Menurutnya, kata-kata indah yang terangkai didalam puisi ciptaannya itu, banyak bercerita tentang kisah masa kecilnya bersama teman-teman sejawatnya. Pacitan yang dikenal sebagai kawasan berbukitan tandus, terisolir, dan lebih dikenal sebagai daerah miskin, namun tidak menyurutkan niatnya untuk terus berkarya menatap hari esok yang lebih baik. "Kalau yang lain bisa, orang Pacitan juga harus bisa. Kalau SBY bisa, kalian juga harus bisa," tutur SBY memberikan motivasi.

Menurutnya, dalam menapaki kehidupan, nilai estetika sangat diperlukan. Pendekatan keilmuan dengan lebih menekankan pada logika, juga tidak bisa dipisahkan. Selain itu, moralitas juga menjadi komponen penting untuk mencetak generasi bangsa yang kuat dan bertanggung jawab. Bagi SBY, logika lebih mencetak pribadi berpengalaman serta bisa membedakan mana yang benar, dan mana yang salah. Namun estetika akan mencetak sebuah cinta kasih yang lebih luas. "The power of love. Estetika akan mencetak sebuah cinta dalam artian luas. Tiga komponen mendasar itulah yang seharusnya bisa dijadikan pedoman oleh para guru dan siswa dalam menjalani kehidupan‎. Logika, estetika, serta moralitas. Ketiganya tidak pernah bisa dipisahkan," pesan SBY.

Usai melepas kangen dengan suasana sekolahnya, SBY bersama Hj. Ani Yudhoyono dan putra bungsunya, Edhie Baskoro Yudhoyono, bertolak menuju pendopo Pemkab Pacitan guna meninjau lapak-lapak batu akik. Ia sangat terstimulus atas prestasi para penggemar batu yang baru saja dinobatkan sebagai juara umum saat kontes batu mulia di Surakarta, belum lama ini. (yun).

Post a Comment

Powered by Blogger.
close
Banner iklan disini