Tak Berani Naikkan Harga, Pengusaha Tahu Harus Merugi

(Foto:kabarpacitan.com)
Pacitan,kabarpacitan.com- Naiknya harga kedelai sebagai imbas melemahnya nilai tukar Rupiah berdampak pada aktivitas pengusaha tahu di Pacitan. Mereka berada dalam posisi dilematis. Disatu sisi ongkos produksi naik sementara harga jual tahu dan tempe tetap. 
Ini dialami salah satu pelaku usaha pembuatan tahu dan tempe di Dusun Pager, Arjowinangun, Pacitan. Mereka memilih untuk tidak menaikkan harga tahu dan tempe meski bahan baku kedelai meningkat signifikan. 
“Biasanya hanya Rp 7000. Sekarang harganya naik Rp 500 per kilogramnya. Meskipun bahan baku melonjak tetapi kami tidak menaikkan harga karena takut kehilangan pelanggan,” kata Staf Adiministrasi Perusahaan Tahu Langgeng Jaya Musrifah pada wartawan Jumat, (7/9/2018) kemarin. 
Meningkatnya biaya produksi maka pengeluaran atau modal usaha otomatis membengkak. Belum lagi mereka juga harus menanggung biaya operasional berupa beban upah karyawan. Alhasil penghasilan pengusaha tahu pun turun signifikan.
“Omzet perusahaan turun sekitar 30 persen. Begitu juga keuntungannya. Biasanya bisa mencapai Rp 5 juta kini untuk mencari keuntungan Rp 3 juta harus bersusah payah,” jelas Musrifah. 
Pelaku usaha berharap harga kedelai segera normal. Sebab, usahanya bisa saja gulung tikar jika terus merugi. 

Reporter : Agung Prawoto
Editor     : Sujarismanto

No comments for "Tak Berani Naikkan Harga, Pengusaha Tahu Harus Merugi"