warga-korban-tanah-gerak-desa-purworejo
Salah Satu Warga Desa Purworejo Korban Tanah Gerak
Pacitan - Fenomena tanah gerak terjadi di tengah wilayah Kota Pacitan,Sedikitnya sembilan rumah di Dusun Krajan, Desa Purworejo, Kecamatan Pacitan Kota, terdampak pergerakan tanah. Kerusakan terparah dialami tiga rumah. Retakan bahkan menjalar hingga puluhan meter dan sanggup memiringkan banguna rumah.

Demi keamanan, pemilik rumah yang terdampak memilih mengungsi bersama keluarga saat malam. 

”Kami takut jika rumah tiba-tiba roboh. Sebab, perkembangan retakan di bangunan rumah tidak terasa,’’ ungkap Eni Sulistiana,warga yang terdampak tanah gerak di Krajan.(24/1)

Pergerakan tanah di dusunnya diketahui pada akhir Desember lalu. Hujan yang kerap mengguyur memunculkan garis retakan di halaman beberapa rumah warga. Tak disangka, rumah Eni lama kelamaan ikut terdampak.

Di rumahnya, garis retakan sepanjang 2 meter muncul di lantai teras depan. Kian lama, retakan tersebut menjalar ke dinding dan kamar di dalam rumah. 

”Terus menjalar hingga dinding dapur di bagian belakang rumah. Dan perkembangan itu tidak diketahui. Biasanya baru sadar saat pagi,’’ terangnya.

Awalnya, lebar retakan tidak lebih dari 2 sentimeter. Namun, sejak tiga pekan lalu, perkembangan retakan di lantai dan dinding semakin parah. Saat ini lantai teras rumah Eni merekah hingga 10 sentimeter.

Selain lantai, lebar retakan di dinding kini mencapai sekitar 5 sentimeter. Saat diukur, kedalaman celah retakan di lantai rumah Eni mencapai 2 meter. Bangunan rumah tersebut kini miring hingga 5 sentimeter. 

”Karena sudah miring dan retak sana-sini, kami khawatir. Terutama saat malam,’’ ujarnya.

Bukan hanya rumah Eni, Begitu juga dengan rumah Suparno, 42, juga merasakan dampak gerakan tanah. Di rumahnya, ada retakan di lantai keramik sepanjang 4 meter. Retakan tersebut menjalar dari halaman rumahnya. Berbeda halnya dengan Eni, Suparno tidak mengungsi.

Dia memilih tetap tinggal karena merasa kerusakannya tidak parah. Dia mengaku beruntung membangun rumah dengan bahan kayu. Sebab, ketika terjadi pergerakan tanah yang merusak dinding atau lantai, kayu cenderung tidak terdampak. 

”Kayu itu cenderung ikut bergerak ketika digoncang gerakan tanah. Tidak kemudian retak seperti dinding,’’ katanya.

Sejak kemarin, bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan dan Pemkab setempat datang kepada para warga yang terdampak. Mereka yang mengungsi merasa cemas dan meminta pemerintah memperhatikan dengan mencarikan solusi soal fenomena alam tersebut.

 ”Kejadian ini kali pertama. Kami merasa perlu tahu apa penyebabnya. Sebab, khawatir jika sewaktu-waktu hal yang terburuk bisa saja menimpa,’’ ujar Suparno. 

Menurut Kepala Sie Kedaruratan dan Logistik BPBD Pacitan Pujono, fenomena tanah gerak di desa Purworejo berlangsung cukup lama. Kondisi ini ditengarahi akibat tanah setempat labil. Ditambah lagi hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi sepanjang tahun 2016.

Bencana tanah gerak menjadi ancaman bencana bagi warga Pacitan selain banjir dan longsor. Setidaknya ada empat yang masuk zona merah rawan bencana tanah gerak. Yakni Kecamatan Tegalombo, Bandar, Nawangan dan Tulakan,Paparnya.

Empat wilayah tersebut memiliki kontur lereng tanah setinggi 30-40 derajat. Serta merupakan tanah labil yang terdiri dari berbagai bidang gelincir. Sehingga, ketika hujan turun memicu terjadinya pergerakan tanah,jelasnya

Pemicu terjadinya tanah gerak paling besar didominasi faktor aktivitas manusia. Persentasenya sekitar 87,29 persen. Kemudian dipicu oleh faktor kondisi hidrologi lereng sekitar 4,23 persen. Selanjutnya, faktor kelerengan sekitar 1,51 persen, faktor geologi sekitar 6,34 persen, faktor curah hujan serta guncangan gempa,Pungkasnya.(tyo)

Post a Comment

Powered by Blogger.
close